Pada zaman dahulu kala, di tepi hutan ada sepasang suami istri yang sudah tua. Karena tidak memiliki anak, mereka sering merasa kesepian. Suatu hari si Ayah menebang kayu di hutan, lalu membuatkan Ibu sebuah boneka kayu. Ibu sangat senang sekali, dia membuatkan baju untuk boneka itu, menggendongnya, bahkan bersenandung meninabobokannya.
Lama-kelamaan, boneka kayu yang dipanggil Teryosha itu semakin mirip manusia hingga akhirnya dia menjelma menjadi seorang anak laki-laki yang cerdas. Ayah membuatkannya sebuah perahu kecil berwarna putih dengan sepasang dayung berwarna merah. Teryosha menaiki perahu tersebut dan berkata, perahu kecilku, lakukanlah apa yang kumau. Bawalah aku ketempat ikan berkumpul.
Perahu kecil itu perlahan-lahan mulai bergerak ke tengah sungai, makin lama makin jauh. Sejak saat itu, setiap hari teryosha pergi memancing. Siang hari ibunya akan datang ke tepi sungai dengan membawa makan siang, lalu mulai bernyanyi memanggil Teryosha.
Teryosha mendengar yang suara ibunya dari kejauhan, akan segera mendayung perahunya ke tempat ibunya menunggu. Ibu akan mengambil ikan yang ditangkapnya, memberinya makan siang, mengganti pakaiannnya, kemudian membiarkannya berlayar lagi.
Seorang penyihir jahat melihat kejadian itu, dan mulai mempelajari apa yang dilakukan ibu saat memanggil Teryosha. Dia ingin sekali menyantap teryosha, maka suatu hari dia datang ke tepi sungai dan mulai bernyanyi dengan suaranya.
Teryosha tahu bahwa itu bukanlah suara ibunya, dia memerintahkan perahunya untuk segera menjauhi tempat si penyihir. Penyihir jahat itu lalu pergi ke tempat pandai besi, dan memintanya untuk mengubah tenggorokannya sehingga dia bisa memiliki suara seindah suara ibu teryosha. Si pandai besi menuruti kemauan si penyihir, lalu si penyihir kembali ke tepi sungai dan mulai bernyanyi memanggil Teryosha.
Kali ini Teryosha mengira kalau itu adalah suara ibunya, karena suaranya memang sangat mirip dan mulai mendayung perahunya ke tepi sungai. Dengan mudah si penyihir menangkapnya, memasukkannya ke dalam tas, dan membawanya ke tengah hutan.
Di tengah hutan, ada sebuah gubuk tempat si penyihir tinggal bersama anak gadisnya yang bernama Alynoka. Penyihir menyuruh anaknya menyalakan oven dan memanggang Teryosha untuk makan malam, lalu dia pergi lagi.
Alyonka pum mulai menyalakan api. Saat api membesar dan sudah sangat panas, dia menyuruh Teryosha untuk berbaring di atas panggangan. Tapi Teryosha hanya duduk di atasnya, merentangkan tangan dan kakinya sehinggga Alyonka tidak dapat memasukkan panggangan tersebut ke dalam oven. Teryosha pura-pura tidak mengerti, dan meminta Alyonka untuk mencontohkannya.
Alyonka lalu berbaring di atas panggangan, dan Teryosha dengan cepat mendorongnya ke dalam oven, menutup dan menguncinya rapat-rapat. Dia berlari keluar dan memanjat sebuah pohon oak tua, karena dia melihat kedatangan si penyihir di kejauhan.
Penyihir itu sangat kelaparan, dia segera membuka pintu oven dan melahap alyonka dengan rakusnya. Karena merasa kekenyangan dia keluar dan mulai bersenandung.
Penyihir itu kemudian mendongak dan melihat Teryosha duduk di atas pohon. Dia sangat marah lalu berlari ke pohon dan mencoba merobohkannya dengan cara menggigitnya. Dia terus menggigiti pohon oak sampai giginya patah. Dia kemudian berlari ke pandai besi agar dibuatkan gigi besi.
Pandai besi pun membuatkan 2 gigi besi dan memasangkannya, lalu si penyihir menggigiti pohon oak lagi. Dia terus menggigiti pohon oak sampai 2 gigi bawahnya patah. Dia meminta pandai besi membuatkannya dua gigi besi lagi, yang lalu dipasangnya. Lalu kembali menggigiti pohon oak tersebut. Semakin lama semakin cepat, hingga pohon oak itu mulai bergoyang-goyang dan hampir tumbang.
Tiba-tiba dia melihat sekawanan angsa liar terbang melintas, maka Teryosha memohon bantuan pada mereka. Tetapi angsa-angsa itu menjawab, nanti ada sekawanan angsa lagi yang terbang di belakang, mereka lebih muda dan kuat daripada kami, mereka pasti bisa membawamu.
Penyihir yang mendengar jawaban si angsa, tertawa sinis, dan menggigiti pohon oak lebih keras lagi. Sekawanan angsa yang lain datang lagi, Teryosha kembali memohon.
Tapi angsa-angsa itu menjawab, ada seekor anak angsa yang terbang di belakang, dan dia bisa membawamu pulang.
Tinggal sedikit lagi gigitan maka penyihir akan menumbangkan pohon oak. Tidak berapa lama, seekor anak angsa terbang melintasi kepala Teryosha, dia kembali memohon. Angsa muda itu merasa kasihan melihat Teryosha, maka dia pun membiarkan Teryosha naik ke punggungnya. Dia membawa Teryosha terbang meninggalkan si penyihir yang marah menuju rumah ibu Teryosha.
Akhirnya sampailah Teryosha dan angsa muda di rumah orangtua Teryosha. Dari balik jendela dia melihat Ibu Teryosha sedang menyajikan pancake, memberikan satu untuk ayah dan Teryosha yang di luar rumah ikut meminta pancake itu.
Ayah keluar dan menemukan Teryosha, lalu membawanya masuk. Ibu Teryosha sangat gembira melihatnya, dia memeluk dan menciumi Teryosha yang sangat dirindukannya.
Mereka menghadiahi si anak angsa makanan dan minuman yang banyak, dan membiarkannya bebas di halaman sampai dia tumbuh besar dan kuat. Sekarang dia siap memimpin sekelompok angsa untuk terbang, dan tidak pernah melupakan Teryosha.